The Other Self (HunStal-SuStal) [EXO F(x) Fanfiction]

edit

Title : The Other Self
Cast :

-Jung SooJung as Krystal and SooJung
-Oh Sehun as Sehun
-Kim Joon myun as Suho
-Choi Jinri as Sulli
-Son Seungwan as Wendy
-find by yourself
Genre : Family,School life,Romance
Rating : PG 13
Length : ?

note : FF ini asli buah pikiranku. no plagiat. mohon maaf jika ada yang hampir sama ceritanya, mungkin itu hanya kebetulan atau tidak disengaja. karena ff ini asli dari pikiranku.

Ketika kau merasakannya……
Ini seakan mustahil,
Tanpa sadar,
Kau melakukan segalanya,
Diluar kesadaran.
Yang kau rasakan hanyalah
Dirimu yang sedang kau jalani.

Mereka berkata aku memiliki dua kepribadian?
Jangan bercanda.

-Soojung side-
Kupandangi penampilaku di cermin. Lumayan. Pantas saja Suho tergila-gila padaku. Haha mungkin aku terlalu berlebihan.
“soojung, cepat turun nak. Suho sudah datang” Eomma berteriak memanggilku. Lantas saja aku segera turun untuk bertemu pujaan hatiku. Aku tak bisa membayangkan apa reaksinya melihat penampilanku.
“baiklah Eomma” ucapku sopan.
“hai…” sapaku dan langsung saja Suho berbalik menghadapku.
“wow, you’re so beautiful” puji Suho. Sesaat aku berpikir karena tidak begitu paham bahasa yg dibicarakannya. Suho yang menyadari aku tidak bisa berbahasa inggris lalu “kau sangat cantik” lanjut Suho dalam bahasa yang kumengerti. Seketika saja aku malu. Aku menunduk untuk menyembunyikan rona dipipi ku. Suho mengangkat dagu-ku. Lalu dia tersenyum manis sambil menatapku.
“kau manis jika sedang begitu” ucap suho. Aku yakin pipiku sekarang sudah merah seperti kepiting rebus.
“terimakasih. sudahlah kajja masuk ke mobil. Udara malam sangat dingin. Aku tidak ingin kulitku gatal lagi seperti waktu itu” tegasku mengalihkan perhatian Suho. Aku memang memiliki alergi dingin. Entahlah, rasanya seluruh badanku gatal jika bersentuhan dengan udara dingin.
Suho adalah pewaris perusahaan Gook. Perusahaan yang masuk dalam 10 perusahaan terbesar di Korea Selatan. Mungkin itu alasan Eommaku menjodohkannya denganku. Selain tampan, Suho juga sudah memiliki masa depan yang cerah. Awalnya aku menolak mentah-mentah saat dijodohkan dengan namja yang 7 tahun lebih tua dariku. Bayangkan saja, aku yang masih berumur 17 tahun, dijodohkan dengan pewaris berumur 24 tahun. Namun akhirnya aku mengerti. Eomma ingin masa depanku bahagia. Eomma selalu bilang agar aku tidak sepertinya dulu. Memang Eomma dulu kenapa? Sampai sekarang pun aku tidak tahu dan Eomma tidak memberitahu. Satu satunya hal yang kubenci dari Eomma adalah, selalu berkata ‘kau tidak boleh memiliki pacar disekolah’ setiap saat. tentu sajalah, memang aku ini apa? Sudah dijodohkan masih pula berpacaran. Aku juga sangat lemah untuk mengingat masa kecilku. Bahkan aku tidak bisa mengingat apapun tentang masa kecilku. Eomma senang karena aku tidak mengingatnya. Sepertinya.
“kencan kali ini kau yang pilih tempatnya” kata suho menyadarkanku.
“haruskah kita menonton bioskop?” tanyaku sambil tersenyum. Langsung saja Suho mengacak rambutku gemas.
“anything for you, honey”
Aku tidak mengerti dia berbicara apa, yang jelas aku merasa sangat beruntung memilikinya. Dan aku sangat mencintainya
.
.
.

-Krystal side-
“hey, ngelamun aja” aku terlonjak kaget saat Sulli menyadarkanku. “liatin siapa sih?” tanya Sulli sambil mengikuti arah pandangku. “oh, si Sehun. Sadar woy ini dikelas. Belajar dulu jangan pacaran terus” Sulli menggodaku
“Whatever” ucapku sambil tersenyum pada Sehun yang sedang memperhatikan papan tulis. Betapa tampannya dia jika sedang serius seperti ini. Merasa diperhatikan, Sehun mengalihkan pandangannya menatapku. Aku segera tersenyum salah tingkah tertangkap basah oleh Sehun. Sehun hanya tersenyum geli seolah –ada-ada-saja- padaku. Aku merasa menjadi yeoja paling beruntung didunia ini. Memiliki namjachingu tampan tentunya menjadi impian semua orang. Pernah saat dahulu Sehun hampir berkencan dengan Sulli. Aku sangat marah pada saat itu mengetahui Sehun akan berkencan dengan Sulli. Bukan. Bukannya aku marah pada mereka. aku hanya marah pada kenyataan bahwa orang yang kusukai harus berkencan dengan sahabatku sendiri. Namun mungkin Sulli seakan mengerti bahwa Sehun orang yang kusukai, ia menghindari Sehun sebisanya. Sebenarnya aku merasa tidak enak pada Sulli. Seolah aku egois. Tetapi memang egois sebenarnya karena pada kenyataannya sudah sejak SMP Sehun mendekati Sulli. Ya, Sehun dan Sulli memang dalam SMP yang sama. Namun entah kenapa Sulli seperti selalu tidak membalas Sehun dari semenjak SMP pun. Setelah 2 tahun berjuang mendekati Sulli tapi tiada hasil, mungkin Sehun menyerah. Terbukti ketika ia jadi lebih sering menghabiskan waktunya di atap sekolah yang sebenarnya adalah tempatku menenangkan diri juga. Dari semenjak itulah aku jadi semakin sering mengobrol dengannya. Hubunganku dengannya pun semakin dekat.
“nona Krystal, tolong perhatikan papan tulis” tegur Choi Seongsaenim menyadarkanku. Dengan panik aku langsung memperhatikan papan tulis. Aku melirik pada Sehun yang sedang tertawa. Malu. Sungguh aku malu sekali.
Bel istirahat berbunyi.
Akhirnya aku terbebas dari neraka ini. Mungkin bukan aku saja yang merasa seperti itu. Karena saat ini Sehun sedang mendekatiku dan “ngapain sih tadi kamu ngeliatin aku terus?” tanya Sehun dengan nada percaya diri. “aku jadi salah tingkah dan tidak konsen tau” Sehun tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
“suruh siapa kamu punya wajah tampan” gumamku nyaris berbisik. Aku berharap hanya aku saja yang bisa mendengar. Namun
“apa? Tadi kamu bilang apa?” goda Sehun mendesakku untuk mengatakannya lagi.
“ugly! ewhh” pekikku sambil menjulurkan lidah.
“bohong! Tadi kamu bilang aku tampan” Sehun tak mau kalah, kini dia sudah menggelitikku seolah mendesakku untuk mengatakan kata ‘tampan’ lagi untuknya. Aku hanya tertawa menerima perlakuannya.
“ehem, kalian kaya anak kecil banget” sindir Sulli yang ternyata sudah menungguku didepan pintu bersama Wendy.
“nyampe ngelupain temennya nih” sindir Wendy tak kalah tajam. Mereka memang sering menyindirku jika sedang berduaan dengan Sehun. Kadang aku berpikir apakah mereka tidak menyukainya, atau cemburu mungkin. Tapi aku segera menepis pikiran itu karena tidak mungkin mereka seperti itu. Jelas saja mungkin mereka hanya ingin menggodaku saja. Kedua sahabatku ini sepertinya tidak bisa melihatku bahagia. Tapi entah mengapa aku sangat menyayangi mereka. Berawal ketika ketiga yeoja –termasuk aku- sama sama bingung mencari kelas. Kami bertiga saling bertanya. Dan ternyata kami bertiga satu kelas. Lantas saja kami mencari kelas bersama. Ketika ternyata aku mendapatkan kecocokan dengan mereka. Sulli yang cukup bawel, dan memiliki rasa gengsi yang tinggi. Gengsi dalam artian mengakui kelebihan orang lain maksudnya. Dan juga Wendy yang sangat bawel menurutku, dia banyak bicara. Dan juga selalu memojokanku dan mengejekku. Memang sekilas alasan itu tidak logis untuk membuatku berteman dengan mereka. Namun entahlah, justru dengan itu yang membuatku nyaman. Aku dan Wendy sangat fasih berbicara bahasa inggris. Terkadang kami sering berbincang menggunakan bahasa Inggris. Dan sepertinya itu sukses membuat Sulli kebingungan.
“sorry guys, sepertinya aku menyusul lagi karena aku masih ingin bersama setan tampan ini” jelasku pada temanku dengan mengecilkan suaraku pada saat kata ‘tampan’
“it’s ok, we’ll be waiting” teriak Wendy lalu menghilang dibalik pintu. Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Aku mengikuti bayangan mereka yang masih ada dijendela kelasku. Sampai aku melupakan Sehun yang saat ini sudah bertanya “tadi kamu bilang aku tampan kan?” mati aku, mengapa kupingnya sangat tajam.
“kau salah dengar sepertinya” ucapku meyakinkan Sehun. Tapi sepertinya Sehun tetap bersikeras bahwa pendengarannya memang benar. Terbukti saat ini ia mengancamku
“kau masih saja gengsi didepan pacar tampanmu ini? Haruskah aku menciummu agar kau mengaku?” ancamnya membuatku bergidik ketakutan.
“dasar pervert” seruku sambil tertawa.
“nona krystal, sepulang sekoalah, ada acara?” tanya Sehun membuatku berharap lebih.
“nothing, ada apa tuan Sehun?”
“boleh aku bermain kerumah mu? Selama kita berkencan, aku belum pernah sekalipun kerumah mu” Sehun merengek manja persis seperti bayi. Membuatku gemas ingin menerkamnya. Well,terlalu berlebihan sepertinya jika aku harus menerkamnya. Karena aku tidak mau kehilangan namja paling tampan ini. Tapi kata ‘rumah’ menyadarkanku. Rumah? Apakah aku punya rumah? Dimana rumahku?.
“rumah?” gumamku tanpa disadari.
“iya rumahmu, kita pulang bareng ya nanti” aku bisa lihat Sehun bersemangat kali ini. Tapi aku tidak menghiraukan itu. Sekarang aku berpikir keras. Rumah? Rumahku dimana?
“hey, kenapa kamu? Malah bengong. Yaudah aku ke kantin duluan ya, temen temen udah nungguin. Kamu juga tuh, Sulli sama Wendy kayanya udah nungguin. bye” ucap Sehun menyadarkanku dari acara berpikir tentang rumah.
“bye” teriakku ketika Sehun sudah hilang dibalik pintu.
Rumah? Aku benar-benar lupa dimana rumahku.
.
.
.
-Soojung side-
“Krystal!!!! Tunggu!!” seseorang meneriaki namaku dilobby sekolah. Aku menoleh dan mendapati seorang namja berkulit pucat sedang berlari kearahku. Siapa dia? Aku tidak kenal. Dan tunggu, dia memanggilku Krystal? Siapa itu Krystal? Aku memperhatikan sekitar, tidak ada orang selain aku dan tentunya namja yang memanggilku tadi. Itu artinya dia sedang berbicara padaku. Tapi mengapa memanggilku Krystal? Namaku Soojung bukan Krystal. Aku mempercepat langkahku karena takut. Setelah masuk kedalam mobil, aku bernapas lega. Dan segera menyuruh supirku untuk menjalankan mobilnya.
“Krystal tunggu!!! Chagiaaaa” ucap namja itu sambil memukul-mukul kaca jendela mobilku. Aku bergidik ngeri melihatnya. Siapa namja ini sampai memanggilku chagi. Jangan mengaku-ngaku karena aku hanya milik Suho seorang. Dan juga sedari tadi ia memanggilku krystal? Sejak kapan seorang Soojung mengganti namanya menjadi Krystal. Mungkin namja gila ini salah orang.
Aku melihat ke kaca spion. Rupanya namja tadi mengikutiku dengan motornya. Entahlah, aku tidak peduli. Lagipula aku tidak mengenalnya.

.
.
.
-Soojung side-
Malam ini, aku bersama ibuku tentunya diundang untuk makan malam dirumah megahnya Suho. Ya, harus ku akui eomma hanya keluargaku satu-satunya. Aku memang anak tunggal. Appaku sudah meninggal dunia seperti yang dikatakan eomma. Namun sampai sekarang aku tidak ingat kapan dan karena apa, appaku meninggal.
“Selamat datang” beberapa maid membungkuk sopan saat aku dan eomma masuk kedalam rumah mewah ini. Nyaris bisa dibilang istana.
“Tuan besar, Nyonya, dan Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan” ucap salah satu maid. Lantas aku dan eomma membungkuk sopan dan berjalan menuju ruang makan.
“selamat datang Nyonya Jung dan Selamat datang calon menantuku” sapa Nyonya Kim yang saat ini sedang bercipika cipiki dengan eommaku. Tuan Kim hanya tersenyum dan mengangguk ringan tanpa beranjak dari kursinya. Terkesan angkuh memang. Ya, tapi itulah Tuan Kim. Tapi aku tahu Tuan Kim pasti orang yang sangat baik.
“silahkan duduk” titah Nyonya Kim ramah dan sopan. Lalu aku segera menduduki kursi disebelah Suho, sedangkan eomma disebelah Nyonya Kim. Kalian pasti bertanya mengapa aku bisa dijodohkan dengan Suho? Ya, eommaku dengan Nyonya Kim sudah bersahabat sejak SMP. Dan juga eommaku adalah pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Gook. Ya meskipun kenyataannya perusahaan eomma hanya salah satu dari beberapa perusahaan kecil yang bekerja sama dengan perusahaan Gook. Tapi nyatanya aku yang terpilih menjadi tunangan untuk Suho kan? Sungguh aku tidak bisa percaya. Para maid sudah selesai menuangkan wine pada gelas kami masing-masing.
“jadi, bagaimana perkembangan hubungan kalian?” tanya Tuan Kim dengan suara beratnya yang khas kepada aku dan Suho tentunya.
“baik-baik saja abeoji. Kemarin aku sudah sempat berkencan dengannya” jawab Suho sambil memotong dagingnya dengan pisau.
“aku menikmati perjodohan ini Tuan” jawabku dengan suara lemah lembut dan sopan.
“baguslah jika begitu” kini Tuan Kim meminum winenya. “apakah kalian sudah ada rencana untuk menuju ke pernikahan?” lanjut tuan Kim sontak membuat aku kaget setengah mati. Oh, tentu saja bukan aku seorang, sepertinya Nyonya Kim, eomma dan Suho pun sama kagetnya denganku. Nyonya Kim yang menangkap ekspresiku langsung turun tangan.
“yeobo, kau ini bicara apa? Soojung masih berumur 17 tahun, dan mana mungkin dia mau menikah di umurnya yang masih remaja?” ya. Aku sangat setuju dengan pernyataan Nyonya Kim mengenai umurku yang masih remaja.
“aku akan melamarnya secepat mungkin” ucap Suho membuatku menoleh pada Suho dengan mata yang kurasa sudah akan keluar dari kelopak mata. Ah mungkin aku terlalu berlebihan jika aku menggambarkan mataku akan keluar.
“bukankah begitu chagi? Begitu kau lulus, aku akan segera melamarmu” ucap Suho lembut sambil tersenyum kearahku.
Aku membalas senyumannya dengan lembut. “ku rasa, aku akan menerima apapun rencana kalian” aku melajutkan memakan makaanku. Tapi kurasa aku lupa kapan aku akan lulus. Aku bahkan tidak ingat aku kelas berapa. Mengapa ingatanku buruk seperti ini?
.
.
.
-Krystal side-
“hey you” sapa Wendy ketika aku memasuki kelas.
“what’s up?”jawabku sambil duduk. Lalu menyadari bangku Sulli masih kosong.
“where’s Sulli?” tanyaku sambil memandang bangku Sulli.
“she is sick. I think she will absent” jelas Wendy.
“should we buy some fruits for her?” tanya ku yang bermaksud untuk mengajak menjenguk Sulli.
“sure,after the class’s over?” tanya Wendy. Aku bisa merasakan beberapa pasang mata sedang menatap kami seolah ingin tau apa yang sedang dibicarakan. Ya, kalian tau lah, di negeri korea, tentunya tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris. Dan sekali lagi aku sangat beruntung bisa berbicara bahasa Inggris. Wendy jelas fasih karena ia berkebangsaan Canada. Sedangkan aku? Entahlah. Aku bahkan lupa kapan aku belajar berbahasa.
“Krystal!” teriak seseorang yang sudah sangat ku hapal suaranya. Lantas aku segera menoleh dan tersenyum kearah Sehun-yang memanggilku tadi.
“good morning chagi” sapaku sambil mengelus pipi Sehun lembut. Sehun membalas senyumku.
“kemarin aku panggil-panggil kok ga nyahut? Malah langsung masuk mobil?” tanya Sehun langsung. Aku terdiam sejenak. Mencerna perkataan Sehun. Sehun memanggiku? Aku tidak ingat. Aku bahkan tidak ingat kemarin aku melakukan apa saja. Mobil? Mobil siapa?
“begitu kah?” tanyaku tak mau ambil pusing.
“iya. Kau bahkan menjauhiku ketika aku mengejarmu” Sehun mempoutkan bibirnya membuatku gemas.
“haha, i’m so sorry honey” aku tak mau kalah, aku segera mengeluarkan pout terbaikku agar Sehun memaafkanku.
“haruskah kita pergi berkencan? Agar aku memaafkanmu kkk~” ajak Sehun.
“Sure! Ide yang bagus” jawabku penuh semangat.
“baiklah aku jemput kamu malam ini, ok!” Sehun mengacak-ngacak rambutku.
“i’ll be wait you, my prince”
.
.
.

-Soojung side-
“jadi, bagaimana rencana penikahan kalian?”
Kini, aku sedang berkumpul dengan Eomma, Nyonya Kim, dan tentunya Suho dirumahku.
“rencanaku, aku ingin menikah di pulau jeju eomma” ucap Suho
“Pulau Jeju? Tidak buruk. Bagaimana menurut pendapatmu Soojung?” kini Nyonya Kim bertanya pada Soojung.
“apapun yang diinginkan Suho, aku akan setuju Nyonya” aku tersenyum manis kepada Nyonya Kim.
“Beruntung sekali aku memiliki menantu sepertimu” aku tersenyum malu mendengar pujian Nyonya Kim.
“dan aku juga sangat beruntung memiliki Yeoj……” ucapan Suho terhenti ketika tada yang mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
“biar aku saja yang buka” ucapku seraya berdiri meninggalkan ruang keluarga. begitu pintu kubuka,

“Annyeong Chagiaaaaaa”

TBC

wahhh feel nya gakerasa ya? maklumin author baru yang belum profesional/? masih banyak typo yang bertebaran juga. ceritanya juga susah dimengerti ya pasti.-. yang baca, comment please! aku gatau mau lanjut chapter 2 atau oneshoot aja. jadi kasih saran dan kritik ya ^^